Setelah Start Berkali-kali Sejuta Turis 2012
Jarak bali Lombok dapat ditempuh kurang dari setengah jam dengan menggunaan pesawat udara. Namun, jarak antara dunia wisata di Bali dan Lombok lebih dari 50 tahun. Apa yang perlu dibenahi? Jarak pertama dihitung dari ketika pesawat lepas landas di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sampai pesawat mendarat di Selaparang, Mataram. Jarak kedua, dikalkulasi dari ketika Bali menjadi tujuan wisata sejumlah seniman Eropa, awal 1930-an, dan ketika di Meniting, Lombok, berdiri hotel pertama yang layak untuk turis, pertengahan 1980-an.
Pada awal 1930-an itu, sejumlah seniman dating dan bermukim di Bali, antara lain Rudolf Bonnet dari Belanda dan Walter Spies dari Jerman. Sejak itu, banyak orang asing yang bepergian ke Bali, sekedar menikmati alam yang perawan ketika itu dan budaya yang eksotis (menurut kacamata Barat). Dari peristiwa dan aktivitas dunia pariwisata Bali berkembang dan dikembangkan. Sementara itu, baru dipertengahan tahun 1980-an di Lombok, perisisnya dikawasan pantai Meniting, berdiri hotel yang layak untuk turis.
Perbandingan ini menyiraykan, seolah para pejalan yang hendak menikmati alam dan budaya di nusantara berhenti di Bali dan tak tahu bahwa di Timur Bali, masih ada Lombok apalagi Sumbawa. Kedua pulau di Timur Bali ini pada zaman Republik Indonesia disatukan, plus sejumlah pulau kecil di sekitarnya Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Lombok lama tak tercantum sebagai destinasi di kantong-kantong turis Eropa. Baru belakangan, 1980-an, lewat Bali, turis masuk Lombok. Dan meraka terkaget-kaget, terutama turis yang terobsesi oleh keindahan laut dan gunung yang asli yang belum banyak tersentuh teknologi. Ketika itulah tersebar berita dari mulut ke mulut siapa hendak mencar Bali yang asli, datanglah ke Lombok. Hal itu menjadi promosi, tapi tetap saja Lombok nomer dua sesudah Bali, atau Lombok bias “dijual” karena dikaitkan dengan Bali.
Baru diparuh kedua 1990-an, ada yang mengatakan, ini semua disebabkan Lombok tak punya akses langsung ke kantong-kantong turisme internasional. Jadi, tanpa harus transit di Bali, seharusnya ada akses langsung dari dunia luar ke Lombok kalau pariwisata pulau ini hendak dikembangkan.
Dan, itulah yang dilakukan Kiai Haji Mohammad Zainul Majdi, Gubernur baru NTB untuk masa jabatan 2008 – 2013. Meneruskan gagasan gubernur sebelumnya, Lalu Seri Nata, Zainul Majdi membangun bandara Intenasional Lombok di Tanah Awu, Lombok Tengah. Gubernur Zainul berkata kepada wartawan, “pariwisata di NTB itu akan jadi salah satu dua sector yang akan dikembangkan kedepan selain pertanian”.
Zainul Majdi, Doktor dari Al Azhar, Kairo, dalam ilmu tafsir Al Qur’an, beserta aparat pemerintahan provinsinya meneruskan dan mengembangkan gagasan tentang kepariwisataan sebelumbnya di NTB. Ia, misalnya, tak perlu repot-repot mencari inventarisasi potensi wisata NTB, terutama Lombok dan Sumbawa. Sejak tahun 1980-an, potensi ini sudah disadari oleh pemerintah provinsi NTB dan masyarakat setempat. Itu sebabnya ada yang memberanikan diri menanam modal membangun hotel di kawasan Pantai meniting pada pertengahan 1980-an. Namun, karena untuk ke Lombok atau lebih luas lagi ke NTB mesti lewat Bali, arus kunjungan turis itu tergantung Bali. Begitu ada peristiwa bom Bali, bukan hanya bali yang sepi tapi juga Lombok .
Pada kenyataannya, memang dunia pariwisata Lombok harus sudah dimulai. Bukan hanya bom Bali, di NTB sendiri beberapa kali terjadi kerusuhan missal yang mengakibatkan dunia pariwisata harus menahan diri dulu. Setidaknya, kerusuhan itu meletus pada 2000, 2002, dan 2005 yang termasuk besar. Yang dianggap kerusuhan tidak besar, tetapi juga melibatkan sekelompok orang, bisa katakana hamper tiap tahun terjadi. Dari kerusuhan berlatarbelakang agama sampai perkelahian antar desa yang kadang disebabkan hal sepele: salah paham karena ada warga yang dipukul warga desa lain.
Menurut I Gusti Lanang Patra, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB kepada sebuah media, “yang paling kami takutkan adalah kerusuhan massal. Jika itu terjadi lagi, hancurlah wisata di Lombok karena masalah ini sangat sensitif bagi wisatawan asing.”
Padahal, kawasan pantai pasir putih yang cantik seperti di Senggigi dan Putri Nyale begitu mempesona. Atau, lihatlah ombak yang menggulung-gulung yang dicintai peselancar dunia disepanjang pantai selatan Lombok. Ada juga wisata alam semisal Gunung Kerinci dan Segara Anakan.
Tak hanya kerusuhan dan bom, krisis moneter pada akhir 1990-an pun mengakibatkan pembangunan kawasan wisata Lombok macet dan kemudian bubar. Pada 1997, grup Rajawali hendak menyulap kawasan Putri Nyale menjadi bak Nusa Dua di Bali-kawasan wisata lengkap dengan pendukung yang sesuai selera turis-turis dari Eropa, Jepang, Korea, Australia dan lain sebagainya.
Bahkan, sudah ada Konsorsium yang bernama Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) yang akan mengelola Putri Nyale. Sialnya, krisis moneter keburu menguapkan mimpi NTB. Group Rajawali merugi dan bubarlah LTDC itu. Lalu, terbengkalailah si Putri Nyale.
Baru pada 2006 lalu pariwisata Lombok berdetak kembali, dan hingga 2008 kemarin turisme di NTB terlihat berkembang. Walaupun demikian, menurut catatan asosiasi hotel Lombok, tingkat hunian hotel masih belum bisa dikatakan mengatrol perekonomian NTB. Pada 2008, rata-rata hunian hotel 50 persen. Sebagian besar tamu adalah turis asing yang totalnya se-NTB pada 2007 sekitar 500.000 orang. Bayankan, betapa sedikitnya jumlah itu bila dibandingka dengan jumlah turis asing di Bali pada tahun yang sama: 1,3 juta turisman.
Nah, ditahun itulah Gubernur Lalu Serinata, mencanangkan pembangunan bandara internasional. Dengan demikian, pesawat berbadan lebar dengan penumpang yang banyak bisa mendarat di sini. Harapannya, begitu bandara digunakan tingkat hunian hotel meningkat jadi 70 persen.
Masuk akalkah harapan itu? Kata Gita Ariadi, Kepala Dinas Kebudayaan dan PAriwisata Provinsi NTB, saat acara Lombok Triathlon 2007, ada 90 altet dari Australia batal tampil karena keterbatasan seat penerbangan. Sebab, pesawat berbadan kecil saja yang bisa mendarat di bandara Selaparang Mataram.
Memang, untuk meningkatkan hunian hotel menjadi minimal 70 persen, bukan hanya soal bandara. Banyak hal yang berkaitan dengan kepariwisataan meski dibenahi pula—dari akses menuju destinasi, hotel, restoran, rumah sakit dan lain sebagainya. Dan, pemerintah provinsi NTB sudah merencanakannya dengan rapi.
Gubernur Zainul Majdi (37 tahun), yang lama belajar di Mesir ini, kemudian mengembangkan gagasan pendahulunya, yakni mencanangkan program panjang pembangunan pariwisata NTB yang berbasis meeting industry dan wisata bahari.
“Peringatan 50 tahun berdirinya NTB, 17 Desember 2008 lalu menjadi momentum kebangkitan pariwisata NTB, “kata gubernur Zainul pada upacara hari jadi NTB itu. “kami memiliki 332 pulau yang luar biasa potensi wisata baharinya,” tambahnya. Dari hari jadi provinsi NTb itulah persiapan secara serius menyambut Visit Lombok-Sumbawa 2012 dilakukan.
Syahdan, pemprov siap menyiapkan dananya. Diluar dana untuk membangun bandara internasional dan kawasan perhotelan di kawasan wisata Putri Nyale, khusus pada 2009 ini disediakan dana Rp 4 miliar untuk mempromosikan pariwisata Lombok dan Sumbawa pada pameran Wisata Indonesia di Lombok

